Coretan Pena IIL:-)
KEBERKAHAN DAN PENYESALAN HIDUP
Karya: Lailatul Ilmiyah
Tahun demi tahun telah terlewati hingga akhirnya Mimin kini telah berusia 13 tahun. Mimin tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melihat, semua kemarahan dan kekesalannya selalu dilimpahkan pada ayahnya. “Ayah kenapa aku tidak bisa melihat? Kenapa aku tidak terlahir sempurna seperti teman-temanku yang lain? Andaikan waktu itu ibu tidak mengalami kecelakaan pasti ini semua tidak akan terjadi padaku, ini semua salah ayah, karena ayah tidak bisa menjaga ibu dengan baik, ayah jahat, ayah yang membuat aku jadi seperti ini.” Ucap Mimin. “Maafkan ayah Mimin” Ucap ayahnya dengan raut wajah sedih.
Mentari terbit dari ufuk timur, menandakan esok pagi telah tiba. Mimin berangkat kesekolah, sebelum berangkat kesekolah dia meminta restu dan doa kepada ibunya. “Ibu aku berangkat kesekolah dulu yaa.. Doakan aku supaya bisa menerima ilmu dengan baik dan bisa membanggakan ibu” Ucap Mimin kepada ibunya. Namun, Mimin tidak berpamitan kepada ayahnya, dia langsung bergegas berangkat kesekolah tanpa meminta doa kepada ayahnya.
Kegiatan belajarpun telah selesai. Kemudian Mimin dipanggil oleh bapak kepala sekolah ke kantor karena ada sesuatu penting yang ingin disampaikan bapak kepala sekolah kepada Mimin. Dan ternyata Mimin akan diikutkan lomba Olimpiade IPA. Di samping keterbatasan Mimin untuk melihat, Mimin tidak putus semangat, dia selalu belajar dengan dibantu oleh ibunya. Mimin anak yang pandai dalam pelajaran IPA oleh karena itu Mimin diikutkan lomba Olimpiade IPA, namun untuk bisa mengikutinya harus memerlukan biaya yang cukup besar. Dengan kebutaan yang dialami oleh Mimin, dia merasa bahwa dia kurang mampu untuk bisa mengikutinya. Sesampainya Mimin di rumah, dia langsung bercerita kepada ibunya bahwa dia akan diikutkan lomba Olimpiade IPA. Dia meminta izin kepada ibunya “Bu bolehkah aku mengikuti lomba Olimpiade IPA bu? Tapi bu lomba itu memerluka biaya cukup besar bu, apakah ibu bisa memenuhinya? Dan sekarang bu lihatlah diriku, aku buta bu, apakah aku bisa mengerjakan soal-soal lombanya itu bu? Rasanya tidak bisa bu, lantas bagaimana bu , aku ingin menjadi juara bu, aku ingin memenangkan lomba itu bu” Ucap Mimin sambil menangis kepada ibunya. “Nak ibu akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengikutkanmu lomba nak, kamu tidak perlu khawatir akan hal itu” Ucap ibu kepada Mimin. Malampun tiba. Akhirnya ibu bercerita kepada ayah Mimin. “Alhamdulillah anakku diikutkan lomba, tidak masalah bu, ayah akan bekerja keras demi membahagiakan Mimin” Ucap ayah kepada ibu.
Sesetes embun pagi telah membasahi lazuardi. Menandakan sang surya telah terbit dari ufuk timur. Waktu sarapan, Mimin tidak mendengar suara ayahnya. “Bu dimana ayah bu? Apakah ayah tidak sarapan pagi bersama kita bu?” tanya Mimin. Ibunya tidak menjawab apa-apa, dia hanya diam. Mimin pun tidak menghiraukannya, karena rasa kesalnya pada ayahnya masih belum hilang. Mimin pun bergegas pergi kesekolah.
Hari demi hari terlewati waktu lombapun telah semakin dekat. Pada suatu hari Mimin telah mendapatkan donor mata untuknya, Mimin merasa sangat senang sekali karena ia sebentar lagi akan bisa melihat. Akhirnya waktu operasi mata Mimin telah selesai, dia dipastikan bisa melihat lagi. Dia belajar terus menerus untuk persiapan lombanya. Tiba-tiba Mimin merasa ada yang kurang, dia akhir-akhir ini tidak pernah lagi melihat ayahnya, dia tidak tahu kemana ayahnya pergi, bagaimana kabarnya dan tidak tahu ayahnya ada dimana? Namun Mimin befikir mungkin ayahnya sedang bekerja untuk ibu dan dia, Miminpun kini tidak menghiraukan keberadaan ayahnya, dia bersikap biasa-biasa saja dan melewati hari-demi hari tanpa keberadaan seorang ayah.
Hari perlombaan Olimpiade IPA telah sampai. Mimin merasa gugup dan kurang percaya diri, akhirnya dia berangkat menuju tempat tujuan dengan mencium dan meminta doa kepada ibunya. “Bu doakan aku supaya aku bisa menang dan bisa banggain ibu” Ucap Mimin. “Iya nak ibu selalu mendoakanmu, jangan tergesa gesa dalam mengerjakan, allah ada disisimu, doa ibu selalu menyertaimu nak” ucap ibu kepada Mimin. Mimin akhirnya sampai ditempat tujuan dan menjawab soal dengan benar. Setelah berjam jam pengumumanpun akan disampaikan. Bapak pengurus lomba olimpiade IPA mulai membacakan pengumuman dan hasilnya : Juara 1 Olimpiade IPA diraih oleh Bayu firmansyah. Mimin mulai gugup dan takut tidak mendapat juara karena juara 1 tidak tersebut namanya. Mimin bingung dan hendak akan meninggalkan tempat itu dengan tetesan air mata. Pengumuman terus berlanjut,... Juara 2 Olimpiade IPA diraih oleh Mimin Cantika Apprilia. Mimin menoleh dengan wajah gembira dan langsung berlari menuju keatas panggung untuk mengambil tropinya. Setelah selesai perlombaan Mimin bergegas pulang dengan berlari sekencang mungkin untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada ibunya. “Assalamualaikum buuuu” teriak Mimin kepada ibunya. “Waalaikum salam nak, bagaimana lombanya nak?” tanya ibu kepada Mimin. “Alhamdulillah bu, aku mendapatkan Juara 2 Olimpiade IPA ini berkat doa ibuku yang cantik” Jawab Mimin kepada ibunya.
Cahaya sang surya telah lenyap ditelan oleh purnama. Malam yang sendu pun tiba. Mimin duduk dimeja belajar, dia sedang mengerjakan tugas-tugasnya untuk esok hari disekolahnya. Tiba-tiba terdengar suara rintihan tangisan yang mengarah pada kamar ibunya. Mimin pun khawatir dan segera melihat ibunya. “Ayah lihatlah anakmu sekarang dia telah memenangkan lomba olimpiade IPA, dia merasa sangat bahagia ayah, ibu juga disini merasa sangat bangga kepada dia, pasti di surga sana ayah tentunya merasa bangga dan bahagia kepada anakmu ini bukan??” Ucap ibu yang sedang menangis dan sambil memegang foto ayah Mimin dikamarnya. Mendengar perkataan ibu, Mimin segera menemuinya dan langsung bertanya ada apa dengan ayahnya. Ibunya pun menjelaskan kepada Mimin bahwa kini ayahnya telah tiada sejak kejadian operasi mata Mimin. “Sebelum kamu dioperasi ayahmu mengalami kecelakaan saat dia sedang bekerja di sebuah pabrik, ayahmu tertimpa batu yang cukup besar dari atas gedung nak, ayahmu mengalami banyak pendarahan dikepalanya, sebelum meninggal ayahmu berpesan kepada ibu, dia berpesan jika kelak dia sudah tidak ada ayahmu ingin memberikanmu donor matanya kepada kamu, dia juga berpesan kepada ibu untuk selalu menjaga dan merawatmu dengan baik, ayahmu juga meminta maaf kepadamu karena selama ini dia belum bisa membahagiakanmu nak” Ucap ibunya kepada Mimin sambil menangis. Tubuh Mimin langsung lemas mendengar cerita ibunya, dia menangis sangat kencang , dia merasa sangat menyesal sekali karena dia selama ini telah menyia-nyiakan seorang ayah yang begitu menyayanginya. Sejak saat itu Mimin berjanji kepada ibunya untuk selalu belajar dengan giat dan akan membanggakan ibunya, dan setiap malam Mimin selalu mendoakan ayahnya, dia juga berjanji akan menjadi anak yang sukses supaya kelak di surga sana Mimin dan keluarganya bisa berkumpul bahagia di istana Tuhan Yang Maha Esa.
*Didalam kehidupan pastinya akan ada kesenangan dan kepedihan. Sebelum bertindak seharusnya kita berfikir terlebih dahulu karena penyesalan akan ada diakhir cerita. Sayangi kedua orang tua kita sebagaimana dia menyangi kita sebelum dia meninggalkan kita*
SELESAIπ....
Terimakasih telah membaca CERPEN saya. Maaf bila ada salah kata, atau penggunaan bahasa yang kurang baikπ. Jangan lupa berikan komentar dibawah yah, karena komentar kalian sangat berharga buat sayaπππ!!!

Gimana nih???
BalasHapusGood π
BalasHapusSiiipp lah
Hapusπππ
BalasHapusSipp
BalasHapusKerennπ
BalasHapusOket siiip
Hapusπππ
BalasHapusNaise
BalasHapusππ
BalasHapusKeren..π€©
BalasHapusBaguus
BalasHapusππ
BalasHapusBagus bngettt
BalasHapusKereen kakππΌ
BalasHapusIyaa dek makasihπ
Hapusπππ
BalasHapusGoodπ
BalasHapusππ
BalasHapusSipppππ
BalasHapusUhhh aku terpanggil:v
BalasHapusWkwkwkwk namanya ntar terkenalπ
HapusBagus sekali
BalasHapusHehehehe thanks
Hapusππ
BalasHapusππ
BalasHapusBagusss
BalasHapusKeren kakπ
BalasHapusMakasih deeek
Hapusπππ
BalasHapusπππππ
BalasHapusjoozz dewe
BalasHapusOk bagus
BalasHapusbagus lanjutkan
BalasHapusJozz dewe
BalasHapusWkwkwkwk siip lahπ
HapusWkwkwkwk siip lahπ
Hapusokeee
BalasHapusππππππ
BalasHapus